Dienstag, 24. Dezember 2013

Sintaksis dalam Tatanan Linguistik

  1. A.    Pengertian Sintaksis
Sintaksis adalah tatabahasa yang membahas hubungan antara kata dalam tuturan. Tata bahasa terdiri atas morfologi dan sintaksis. Morfologi itu menyangkut struktur gramatikal di dalam kata, dan sintaksis itu berurusan dengan tata bahasa diantara kata-kata di dalam tuturan.
Pada dasarnya sintaksis itu berurusan dengan hubungan antar kata di dalam kalimat. Sebenarnya, hal itu tidak seluruhnya benar, tetapi sebagai patokan umum dapat diterima. Hubungan antara kalimat termasuk “analisis wacana”, dan hubungan antara tatabahasa (termasuk sintaksis) kalimat dengan wadahnya di dalam wacana perlu diperhatikan. Jadi, sintaksis dianggap menyangkut hubungan gramatikal antar kata di dalam kalimat.
  1. B.     Struktur Sintaksis
Secara umum struktur sintaksis itu terdiri dari susunan subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan. Menurut Verhar (1978) fungsi-fungsi sintaksis itu yang terdiri dari unsur-unsur S, P, O, dan K itu merupakan “kotak-kotak kosong” atau “tempat0tempat kosong” yang tidak mempunyai arti apa-apa karenan kekosongannya. Tempat-tempat kosong itu akan diisi oleh sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peranan tertentu.
Contoh kalimat:          Nenek melirik kakek tadi pagi.
Tempat kosong yang bernama subjek disi oleh kata nenek yang berkategori nomina, tempat kosong yang bernama predikat diisi oleh kata melirik  yang berkategori verba, tempat kosong yang bernama objek diisi oleh kata  kakek yang berkategori nomina, dan tempat kosong yang bernama keterangan diisi oleh frasa tadi pagi yang berkategori nomina.
  1. C.    Kata sebagai Satuan Sintaksis
Dalam tataran morfologi kata merupakan satuan terbesar (satuan terkecilnya adalah morfem), tetapi dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan terkecil yang secara hierarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase. Kata sebagai satuan sintaksis, yaitu dalam hubungannya dengan unsure-unsur pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frasa, klausa, dan kalimat. Sebagai satuan terkecill dalam sintaksis, kata berperanan sebagai pengisi fungsi sintaksis, sebagai penanda kategori sintaksis, dan sebagai perangkai dalam penyatuan satuan-satuan atau bagian-bagian dari satuan sintaksis.
Dalam pembicaraan kata sebagai pengisi satuan sintaksis, pertama-pertama harus kita bedakan dulu  adanya dua macam kata, yaitu yang disebut kata penuh (fullword) dan kata tugas (functionword). Kata penuh adalah kata yang secara leksikal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat bersendiri sebagai sebuah satuan tuturan.
Sedangkan yang disebut kata tugas adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup, dan di dalam pertuturan dia tidak dapat bersendiri.

  1. D.    Frasa
Frasa lazim didefinisikan seagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabunngan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.
  1. Jenis-jenis Frasa
Dalam pembicaraan tentang frasa biasanya dibedakan adanya frasa eksosentrik, frasa endosentrik (disebut juga frasa subordiatif atau frasa modifikatif), dan frasa apositif.
  1. Frasa eksosentrik
Frasa eksosentrik adalah frasa yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Misalnya, frasa di pasar, yang terdiri dari komponen di, dan komponen pasar. Secara keseluruhan atau secara utuh frasa ini dapat mengisi fungsi  keterangan.
Frasa eksosentris biasanya dibedakan atas frasa eksosentris yang direktif dan frasa eksosentris yang nondirektif. Frasa eksosentris yang direktif komponen pertamnya berupa preposisi, seperti di, ke, dan  dari, dan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata yang biasanya berkategori nomina. Frasa eksosentrik yang nondirektif komponen pertamanya berupa artikulus, seperti  si, dan sang atau kata lain seperti  yang, para¸dan kaum. Sedangkan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina, ajektifa, atau verba.


  1. Frasa koordinatif
Frasa koordinatif adalah frasa yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat, dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif, baik yang tunggal seperti dan, atau, tetapi, maupun konjungsi terbagi seperti baik…., baik….., mungkin…., mungkin,  dan baik…., maupun.
  1. c.       Frasa apositif
Frasa apositif adalah frasa koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya dan oleh karena itu, urutan komponennya dapat dipertukarkan. Umpamanya, frasa apositif Pak Ahmad, guru saya.
  1. d.      Perluasan frasa
Maksudnya, frasa itu dapat diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertian yang akan ditampilkan. Ummpanya, frasa di kamar tidur dapat diperluas dengan diberi komponen baru. Misalnya, berupa kata saya, ayah, atau belakang sehingga menjadi di kamar tidur saya, di kamar tidur ayah, di kamar tidur belakang.
  1. E.     Klausa
Klausa adalah sebuah konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung unsur predikatif (Keraf, 1984:138). Klausa berpotensi menjadi kalimat. (Manaf, 2009:13) menjelaskan bahwa yang membedakan klausa dan kalimat adalah intonasi final di akhir satuan bahasa itu. Kalimat diakhiri dengan intonasi final, sedangkan klausa tidak diakhiri intonasi final. Intonasi final itu dapat berupa intonasi berita, tanya, perintah, dan kagum. Widjono (2007:143) membedakan klausa sebagai berikut.
  1. Klausa kalimat majemuk setara
Dalam kalimat majemuk setara (koordinatif), setiap klausa memiliki kedudukan yang sama. Kalimat majemuk koordinatif dibangun dengan dua klausa atau lebih yang tidak saling menerangkan.
Contohnya sebagai berikut:
Rima membaca kompas, dan adiknya bermain catur.
Klausa pertama Rima membaca kompas. Klausa kedua adiknya bermain catur. Keduanya tidak saling menerangkan.
  1. Klausa kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat dibangun dengan klausa yang berfungsi menerangkan klausa lainnya. Contohnya sebagai berikut. Orang itu pindah ke Jakarta setelah suaminya bekerja di Bank Indonesia. Klausa orang itu pindah ke Jakarta sebagai klausa utama (lazim disebut induk kalimat) dan klausa kedua suaminya bekerja di Bank Indonesiamerupakan klausa sematan (lazim disebut anak kalimat).
  1. Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat
Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan bertingkat, terdiri dari tiga klausa atau lebih. Contohnya seperti berikut ini. Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi. Kalimat di atas terdiri dari tiga klausa yaitu. 1) Dia pindah ke Jakarta (klausa utama) 2) Setelah ayahnya meninggal (klausa sematan) 3) Ibunya kawin lagi (klausa sematan) Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal. (Kalimat majemuk bertingkat) Ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi. (Kalimat majemuk setara)
  1. F.     Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran (Widjono:146). Manaf (2009:11) lebih menjelaskan dengan membedakan kalimat menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis. Dalam bahasa lisan, kalimat adalah satuan bahasa yang mempunyai ciri sebagai berikut:
  1. Satuan bahasa yang terbentuk atas gabungan kata dengan kata, gabungan kata dengan frasa, atau gabungan frasa dengan frasa, yang minimal berupa sebuah klausa bebas yang minimal mengandung satu subjek dan prediket, baik unsur fungsi itu eksplisit maupun implisit;
  2. Satuan bahasa itu didahului oleh suatu kesenyapan awal, diselingi atau tidak diselingi oleh kesenyapan antara dan diakhiri dengan kesenyapan akhir yang berupa intonasi final, yaitu intonasi berita, tanya, intonasi perintah, dan intonasi kagum.
    Dalam bahasa tulis, kalimat adalah satuan bahasa yang diawali oleh huruf kapital, diselingi atau tidak diselingi tanda koma (,), titik dua (:), atau titik koma (;), dan diakhiri dengan lambang intonasi final yaitu tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!).
Ciri-ciri kalimat Widjono (2007:147) menjelaskan ciri-ciri kalimat sebagai berikut. Dalam bahasa lisan diawali dengan kesenyapan dan diakhiri dengan kesenyapan. Dalam bahasa tulis diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru, Sekurang-kurangnya terdiri dari atas subjek dan prediket. Predikat transitif disertai objek, prediket intransitif dapat disertai pelengkap. Mengandung pikiran yang utuh. Mengandung urutan logis, setiap kata atau kelompok kata yang mendukung fungsi (subjek, prediket, objek, dan keterangan) disusun dalam satuan menurut fungsinya. Mengandung satuan makna, ide, atau pesan yang jelas.
Dalam paragraf yang terdiri dari dua kalimat atau lebih, kalimat-kalimat disusun dalam satuan makna pikiran yang saling berhubungan. 3.2. Fungsi sintaksis dalam kalimat Fungsi sintaksis pada hakikatnya adalah ”tempat” atau ”laci” yang dapat diisi oleh bentuk bahasa tertentu (Manaf, 2009:34). Wujud fungsi sintaksis adalah subjek (S), prediket (P), objek (O), pelengkap (Pel.), dan keterangan (ket). Tidak semua kalimat harus mengandung semua fungsi sintaksis itu. Unsur fungsi sintaksis yang harus ada dalam setiap kalimat adalah subjek dan prediket, sedangkan unsur lainnya, yaitu objek, pelengkap dan keterangan merupakan unsur penunjang dalam kalimat. Fungsi sintaksis akan dijelaskan berikut ini.
  1. Subjek
Fungsi subjek merupakan pokok dalam sebuah kalimat. Pokok kalimat itu dibicarakan atau dijelaskan oleh fungsi sintaksis lain, yaitu prediket. Ciri-ciri subjek adalah sebagai berikut: jawaban apa atau siapa, dapat didahului oleh kata bahwa, berupa kata atau frasa benda (nomina) dapat diserta kata ini atau itu, dapat disertai pewatas yang, tidak didahului preposisi di, dalam, pada, kepada, bagi, untuk, dan lain-lain, tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak, tetapi dapat diingkarkan dengan kata bukan.
Hubungan subjek dan prediket dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini.
Adik bermain (S) Ibu memasak. S
  1. Predikat
Predikat merupakan unsur yang membicarakan atau menjelaskan pokok kalimat atau subjek. Hubungan predikat dan pokok kalimat dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini.
Adik bermain. (S) Adik adalah pokok kalimat bermain adalah yang menjelaskan pokok kalimat.
Ibu memasak. S P Ibu
  1. Objek
Fungsi objek adalah unsur kalimat yang kehadirannya dituntut oleh verba transitif pengisi predikat dalam kalimat aktif. Objek dapat dikenali dengan melihat verba transitif pengisi predikat yang mendahuluinya seperti yang terlihat pada contoh di bawah ini.
Dosen menerangkan materi. S P O
menerangkan adalah verba transitif.
Ibu menyuapi adik. S P O
Menyuapi adalah verba transitif. Objek mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: berupa nomina atau frasa nominal seperti contoh berikut,
Ayah membaca koran. S P O      Koran adalah nomina.
Adik memakai tas baru. S P O Tas baru adalah frasa nominal berada langsung di belakang predikat (yang diisi oleh verba transitif) seperti contoh berikut,
Ibu memarahi kakak. S P O
Guru membacakan pengumuman. S P O
dapat diganti enklitik –nya, ku atau –mu, seperti contoh berikut,
Kepala sekolah mengundang wali murid. S P O
Kepala sekolah mengundangnya. S P O
objek dapat menggantikan kedudukan subjek ketika kalimat aktif transitif dipasifkan, seperti contoh berikut,
Ani membaca buku. S P O Buku dibaca Ani. S P Pel.
  1. Pelengkap
Pelengkap adalah unsur kalimat yang berfungsi melengkapi informasi, mengkhususkan objek, dan melengkapi struktur kalimat. Pelengkap (pel.) bentuknya mirip dengan objek karena sama-sama diisi oleh nomina atau frasa nominal dan keduanya berpotensi untuk berada langsung di belakang predikat. Kemiripan antara objek dan pelengkap dapat dilihat pada contoh berikut.
Bu Minah berdagang sayur di pasar pagi. S P pel. ket.
Bu Minah menjual sayur di pasar pagi. S P O ket. Pelengkap
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: pelengkap kehadirannya dituntut oleh predikat aktif yang diisi oleh verba yang dilekati oleh prefiks ber dan predikat pasif yang diisi oleh verba yang dilekati oleh prefiks di- atau ter-, seperti contoh berikut.
Bu Minah berjualan sayur di pasar pagi. S P Pel. Ket. Buku dibaca Ani. S P Pel.
pelengkap merupakan fungsi kalimat yang kehadirannya dituntut oleh verba dwitransitif pengisi predikat seperti contoh berikut.
Ayah membelikan adik mainan. S P O Pel.
membelikan adalah verba dwitransitif. pelengkap merupakan unsur kalimat yang kehadirannya mengikuti predikat yang diisi oleh verba adalah, ialah, merupakan, dan menjadi, seperti contoh berikut.
Budi menjadi siswa teladan. S P Pel.
Kemerdekaan adalah hak semua bangsa. S P Pel.
dalam kalimat, jika tidak ada objek, pelengkap terletak langsung di belakang predikat, tetapi kalau predikat diikuti oleh objek, pelengkap berada di belakang objek, seperti pada contoh berikut.
Pak Ali berdagang buku bekas. S P Pel.
Ibu membelikan Rani jilbab. S P O Pel.
pelengkap tidak dapat diganti dengan pronomina –nya, seperti contoh berikut.
Ibu memanggil adik. S P O
Ibu memanggilnya. S P O
Pak Samad berdagang rempah. S P Pel.
Pak Samad berdagangnya (?)
satuan bahasa pengisi pelengkap dalam kalimat aktif tidak mampu menduduki fungsi subjek apabila kalimat aktif itu dijadikan kalimat pasif seperti contoh berikut. Pancasila merupakan dasar negara. S P Pel. Dasar negara dirupakan pancasila (?)
  1. Keterangan
Keterangan adalah unsur kalimat yang memberikan keterangan kepada seluruh kalimat. Sebagian besar unsur keterangan merupakan unsur tambahan dalam kalimat. Keterangan sebagai unsur tambahan dalam kalimat dapat dilihat pada contoh berikut.
Ibu membeli kue di pasar. S P O Ket. tempat
Ayah menonton TV tadi pagi. S P O Ket. waktu
Keterangan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: umumnya merupakan keterangan tambahan atau unsur yang tidak wajib dalam kalimat, seperti contoh berikut.
Saya membeli buku. S P O
Saya membeli buku di Gramedia. S P O Ket. tempat
keterangan dapat berpindah tempat tanpa merusak struktur dan makna kalimat, seperti contoh berikut.
Dia membuka bungkusan itu dengan hati-hati. S P O Ket. cara
Dengan hati-hati dia membuka bungkusan itu. Ket. cara S P O keterangan diisi oleh adverbia, adjektiva, frasa adverbial, frasa adjektival, dan klausa terikat, seperti contoh berikut.
Ali datang kemarin. S P Ket. waktu
Ibu berangkat kemarin sore. S P Ket. waktu
1)      Jenis-jenis kalimat
  1. Kalimat Inti dan kalimat Non-Inti
Kalimat inti biasa juga disebut kalimat dasar adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif, atau netral, dan afirmatif. Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat non-inti dengan berbagai proses transformasi.
  1. Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk
Perbedaan Kalimat tunggal dan kalimat majemuk berdasarkan banyaknya klausa yang ada di dalam kalimat itu, kalau klausanya hanya satu maka disebut kalimat tunggal, kalau klausa dalam sebuah kalimat lebih dari satu maka disebut kalimat majemuk
  1. Kalimat Mayor dan Kalimat Minor
Pembedaan kalimat mayor dan kalimat minor dilakukan berdasarkan lengkap dan tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar kalimat itu kalau klausanya lengkap sekurang-kurangnya memiliki unsur subjek dan predikat maka kalimat itu disebut kalimat mayor. Kalau klausanya tidak lengkap entah terdiri dari subjek, predikat, objek, atau keterangan saja maka kalimat tersebut disebut kalimat minor
  1.  Kalimat Verbal dan Kalimat Non-Verbal
Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori verbal sedangkan kalimat non verbal adalah kalimat y6ang predikatnya bukan kata atau frase verbal, bisa nominal, ajektifal, adverbial, atau juga numeralia.
  1. Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat
Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap atau dapat memulai sebuah paragraph atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang menjelaskannya. Sedangkan kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap atau menjadi pembuka paragraph atau wacana tanpa bantuan konteks.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Flores: Nusa Indah.
Manaf, Ngusman Abdul, 2009. Sintaksis: Teori dan Terapannya dalam Bahasa Indonesia.
Padang: Sukabina Press.
Widjono HS. 2007. Bahasa Indonesia: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan
Tinggi. Jakarta: Grasindo.
sumber : arifsunarya.wordpress.com/2012/11/17/sintaksis-dalam-tataran-linguistik/

Morfologi

A. Pengertian Morfologi
Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. (http://id.wikipedia.org/wiki/linguistik).
Kata Morfologi berasal dari kata morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa Yunani morphe yang digabungkan dengan logos. Morphe berarti bentuk dan dan logos berarti ilmu. Bunyi [o] yang terdapat diantara morphed an logos ialah bunyi yang biasa muncul diantara dua kata yang digabungkan. Jadi, berdasarkan makna unsur-unsur pembentukannya itu, kata morfologi berarti ilmu tentang bentuk.
Dalam kaitannya dengan kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata. Selain itu, perubahan bentuk kata dan makna (arti) yang muncul serta perubahan kelas kata yang disebabkan perubahan bentuk kata itu, juga menjadi objek pembicaraan dalam morfologi. Dengan kata lain, secara struktural objek pembicaraan dalam morfologi adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi.
Itulah sebabnya, dikatakan bahwa morfologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk kata (struktur kata) serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap makna (arti) dan kelas kata.

B. Morfem

1. Pengertian Morfem

Morfem adalah suatu bentuk bahasa yang tidak mengandung bagian-bagian yang mirip dengan bentuk lain, baik bunyi maupun maknanya. (Bloomfield, 1974: 6).
Morfem adalah unsur-unsur terkecil yang memiliki makna dalam tutur suatu bahasa (Hookett dalam Sutawijaya, dkk.). Kalau dihubungkan dengan konsep satuan gramatik, maka unsur yang dimaksud oleh Hockett itu, tergolong  ke dalam satuan gramatik yang paling kecil.
Morfem, dapat juga dikatakan unsur terkecil dari pembentukan kata dan disesuaikan dengan aturan suatu bahasa. Pada bahasa Indonesia morfem dapat berbentuk imbuhan. Misalnya kata praduga memiliki dua morfem yaitu /pra/ dan /duga/. Kata duga merupakan kata dasar penambahan morfem /pra/ menyebabkan perubahan arti pada kata duga. (http://id.wikipedia.org/wiki/linguistik).
Berdasarkan konsep-konsep di atas di atas dapat dikatakan bahwa morfem adalah satuan gramatik yang terkecil yang mempunyai makna, baik makna leksikal maupun makna gramatikal.
Kata memperbesar misalnya, dapat kita potong sebagai berikut
mem-perbesar
per-besar
Jika besar dipotong lagi, maka be- dan –sar masing-masing tidak mempunyai makna. Bentuk seperti mem-, per-, dan besar disebut morfem. Morfem yang dapat berdiri sendiri, seperti besar, dinamakan morfem bebas, sedangkan yang melekat pada bentuk lain, seperti mem- dan per-, dinamakan morfem terikat. Contoh memperbesar di atas adalah satu kata yang terdiri atas tiga morfem, yakni dua morfem terikat  mem- dan per- serta satu morfem bebas, besar.

2. Morf dan Alomorf

Morf dan alomorf adalah dua buah nama untuk untuk sebuah bentuk yang sama. Morf adalah nama untuk sebuah bentuk yang belum diketahui statusnya (misal: {i} pada kenai); sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui statusnya (misal [b¶r], [b¶], [b¶l] adalah alomorf dari morfem ber-. Atau bias dikatakan bahwa anggota satu morfem yang wujudnya berbeda, tetapi yang mempunyai fungsi dan makna yang sama dinamakan alomorf. Dengan kata lain alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam penuturan) dari sebuah morfem. Jadi setiap morfem tentu mempunyai almorf, entah satu, dua, atau enam buah. Contohnya,  morfem meN- (dibaca: me nasal): me-, mem- men-, meny-, meng-, dan menge-. Secara fonologis, bentuk me- berdistribusi, antara lain, pada bentuk dasar yang fonem awalnya  konsonan /I/ dan /r/; bentuk mem- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /b/ dan juga /p/; bentuk men- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya /d/ dan juga /t/; bentuk meny- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya /s/; bentuk meng- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya, antara lain konsonan /g/ dan /k/; dan bentuk menge- berdistribusi pada bentuk dasar yang ekasuku, contohnya {menge}+{cat}= mengecat. Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama tersebut  disebut alomorf.

3.  Prinsip-prinsip Pengenalan Morfem

Untuk mengenal morfem secara jeli dalam bahasa Indonesia, diperlukan petunjuk sebagai pegangan. Ada enam prinsip yang saling melengkapi untuk memudahkan pengenalan morfem (Lihat Ramlan, 1980), yakni sebagai berikut:
3.1  Prinsip pertama
Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis dan arti atau makna yang sama merupakan satu morfem.
membaca                                        kemanusiaan
Contoh:
baca                                                   ke-an
pembaca                                          kecepatan
bacaan                                              kedutaan
membacakan                                 kedengaran
_








Karena struktur fonologis dan              Satuan tersebut walaupun
maknanya sama, maka satuan               struktur fonologisnya sama,
tersebut merupakan morfem                 bukan merupak morfem
yang sama.                                                     yang sama karena makna gramatikalnya berbeda.
3.2  Prinsip Kedua
Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonolis yang berbeda, merupakan satu morfem apabila bentuk-bentuk itu mempunyai arti atau makna yang sama, dan perbedaan struktur fonologisnya dapat dijelaskan secara fonologis. Perubahan setiap morf itu bergantung kepada fonem awal morfem yang dilekatinya.
Contoh:
mem –             :  membawa
meN-
men  -              :  menulis
meny  -            :   menyisir
meng  -            :   menggambar
me-                   :   melempar
Perubahan setiap morf itu bergantung kepada fonem awal morfem yang dilekatinya.
3.3  Prinsip Ketiga
Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur ontologis yang berbeda, sekalipun perbedaannya tidak dapat dijelaskan secara fonologis, masih dapat dianggap sebagai satu morfem apabila mempunyai makna yang sama, dan mempunyai distribusi yang komplementer. Perhatikan contoh berikut:
ber-       :  berkarya, bertani, bercabang
bel-        :  belajar, belunjur
be-         :  bekerja, berteriak, beserta
Kedudukan afiks ber- yang tidak dapat bertukar tempat itulah yang disebut distribusi komplementer.
3.4  Prinsip Keempat
Apabila dalam deretan struktur, suatu bentuk berpararel dengan suatu kekosongan, maka kekosongan itu merupakan morfem, ialah yang disebut morfem zero.
Misalnya:
  1. Rina membeli sepatu
  2. Rina menulis surat
  3. Rina membaca novel
  4. Rina menggulai ikan
  5. Rina makan pecal
  6. Rina minum susu
Semua kalimat itu berstruktur SPO. Predikatnya tergolong ke dalam verba aktif transitif. Lau pada kalimat a, b. c, dan d, verba aktif transitif tersebut ditandai oleh meN-, sedangkan pada kalimat e dan f verba aktif transitif itu ditandai kekosongan (meN- tidak ada), kekosongan itu merupakan morfem, yang disebut morfem zero.
3.5  Prinsip Kelima
Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang sama mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan morfem yang berbeda. Apabila bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang sama itu berbeda maknanya, maka tentu saja merupakan fonem yang berbeda.
Contoh:
  1. a.   Jubiar membeli buku
b.  Buku itu sangat mahal
  1. a.   Juniar membaca buku
b.   Juniar makan buku tebu
Satuan buku pada kalimat 1. a dan 1. b merupakan morfem yang sama karena maknanya sama. Satuan buku pada kalimat kalimat 2. a dan 2. b bukanlah morfem yang sama karena maknanya berbeda.
3.6 Prinsip Keenam
Setiap bentuk yang tidak dapat dipisahkan merupakan morfem. Ini berarti bahwa setiap satuan gramatik yang tidak dapat dipisahkan lagi atas satuan-satuan gramatik yang lebih kecil, adalah morfem. Misalnya, satuan ber- dan lari pada berlari, ter- dan tinggi pada tertinggi tidak dapat dipisahkan lagiatas satuan-satuan yang lebih kecil. oleh karena itu, ber-, lari, ter, dan tinggi adalah morfem.
4.   Klasifikasi Morfem
4.1  Morfem Bebas dan Morfem Terikat
Morfem ada yang bersifat bebas dan ada yang bersifat terikat. Dikatakan morfem bebas karena ia dapat berdiri sendiri, dan dikatakan terikat jika ia tidak dapat berdiri sendiri.
Misalnya:
  1. Morfem bebas – “saya”, “buku”, dsb.
  2. Morfem terikat – “ber-“, “kan-“, “me-“, “juang”, “henti”, “gaul”, dsb.
4.2 Morfem Segmental dan Morfem Supra Segmental
Morfem segmental adalah morfem yang terjadi dari fonem atau susunan fonem segmental. Sebagai contoh, morfem {rumah}, dapat dianalisis ke dalam segmen-segmen yang berupa fonem [r,u,m,a,h]. Fonem-fonem itu tergolong ke dalam fonem segmental. oleh karena itu, morfem {rumah} tergolong ke dalam jenis morfem segmental.
Morfem supra segmental adalah morfem  yang terjadi dari fonem suprasegmental. Misal, jeda dalam bahasa Indonesia. Contoh:
  1. bapak wartawan               bapak//wartawan
  2. ibu guru                               ibu//guru
4.3  Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tak Bermakna Leksikal
Morfem yang bermakna leksikal merupakan satuan dasar bagi terbentuknya kata. morfem yang bermakna leksikal itu merupakan leksem, yakni bahan dasar yzng setelah mengalami pengolahan gramatikal menjadi kata ke dalam subsistem gramatika. Contoh: morfem {sekolah}. berarti ‘tempat belajar’.
Morfem yang tak bermakna leksikal dapat berupa morfem imbuhan, seperti {ber-}, {ter-}, dan {se-}. morfem-morfem tersebut baru bermakna jika berada dalam pemakaian. Contoh: {bersepatu} berarti ‘memakai sepatu’.
4.4  Morfem Utuh dan Morfem Terbelah
Morfem utuh merupakan morfem-morfem yang unsur-unsurnya bersambungan secara langsung. Contoh: {makan}, {tidur}, dan {pergi}.
Morfem terbelah morfem-morfem yang tidak tergantung menjadi satu keutuhan. morfem-morfem itu terbelah oleh morfem yang lain. Contoh: {kehabisan} dan {berlarian} terdapat imbuhan ke-an atau {ke….an} dan imbuhan ber-an atau {ber….an}. contoh lain adalah morfem{gerigi} dan {gemetar}. Masing-masing morfem memilki morf /g..igi/ dan /g..etar/. Jadi, ciri terbelahnya terletak pada morfnya, tidak terletak pada morfemnya itu sendiri. morfem itu direalisasikan menjadi morf terbelah jika mendapatkan sisipan, yakni morfem sisipan {-er-} pada morfem {gigi} dan sisipan {-em-} pada morfem {getar}.
4.5  Morfem Monofonemis  dan Morfem Polifonemis
Morfem monofonemis merupakan morfem yang terdiri dari satu fonem. Dalam bahasa Indonesia pada dapat dilihat pada morfem {-i} kata datangi atau morfem{a} dalam bahasa Inggris pada seperti pada kata asystematic.
Morfem polifonemis merupakan morfem yang terdiri dari dua, tiga, dan empat fonem. Contoh, dalam bahasa Inggris morfem {un-} berarti ‘tidak’ dan dalam bahasa Indonesia morfem {se-} berarti ‘satu, sama’.
4.6  Morfem Aditif, Morfem Replasif, dan Morfem Substraktif
Morfem aditif adalah morfem yang ditambah atau ditambahkan. kata-kata yang mengalami afiksasi, seperti yang terdapat pada contoh-contoh berikut merupakan kata-kata yang terbentuk dari morfem aditif itu.
  1. mengaji       2.  childhood
berbaju            houses
Morfem replasif merupakan morfem yang bersifat penggantian. dalam bahasa Inggris, misalnya, terdapat morfem penggantian yang menandai jamak. Contoh: {fut} à {fi:t}.
Morfem substraktif adalah morfem yang alomorfnya terbentuk dari hasil pengurangan terhadap unsur (fonem) yang terdapat morf yang lain. Biasanya terdapat dalam bahasa Perancis.

C. Proses Morfologis

Proses morfologis dapat dikatakan sebagai proses pembentukan kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem  yang lain yang merupakan bentuk dasar (Cahyono, 1995: 145). Dalam proses morfologis ini terdapat tiga proses yaitu: pengafiksan, pengulangan atau reduplikasi, dan pemajemukan atau penggabungan.

1. Pengafiksan

Bentuk (atau morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata disebut afiks atau imbuhan (Alwi dkk., 2003: 31). Pengertian lain proses pembubuhan imbuhan pada suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata (Cahyono, 1995:145). Contoh:
  1. Berbaju
  2. Menemukan
  3. Ditemukan
  4. Jawaban.
Bila dilihat pada contoh, berdasarkan letak morfem terikat dengan morfem bebas pembubuhan dapat dibagi menjadi empat, yaitu pembubuhan depan (prefiks), pembubuhan tengah (infiks), pembubuhan akhir (sufiks), dan pembubuhan terbelah (konfiks).

2. Reduplikasi

Reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatikal, baik seluruhnya maupun sebagian, baik disertai variasi fonem maupun tidak (Cahyono, 1995:145).
Contoh: berbulan-bulan, satu-satu, seseorang, compang-camping, sayur-mayur.

3. Penggabungan atau Pemajemukan

Proses pembentukan kata dari dua morfem bermakna leksikal (Oka dan Suparno, 1994:181).
Contoh:
  1. Sapu tangan
  2. Rumah sakit

4. Perubahan Intern

Perubahan intern adalah perubahan bentuk morfem yang terdapat dalam morfem itu  sendiri.
Contoh: dalam bahasa Inggris
Singular plural
Foot Mouse Feet mice

5. Suplisi

Suplisi adalah proses morfologis yang menyebabkan adanya bentuk sama sekali baru.
Contoh: dalam bahasa Inggris
Go              went
sing­­­­             sang

6. Modifikasi kosong

Modifikasi kosong ialah proses morfologis yang tidak menimbulkan perubahan pada bentuknya tetapi konsepnya saja yang berubah.
Contoh: read- read-read

D. Proses Morfofonemik

Proses perubahan fonem sebuah morfem yang digunakan untuk mempermudah ucapan.
Contoh:
Perubahan prefiks meng-
-       meng  + asah = mengasah
-       meng + lihat = melihat
-       menga + datangkan = mendatangkan
-       meng + terjemah = menerjemahkan
-       meng + patuhi = mematuhi

E. Proses morfemis menurut Verhaar

  1. Afiksasi adalah pengimbuhan afiks
  2. Prefix adalah imbuhan di sebelah kiri bentuk dasar.
Contoh:  mengajar
  1. Sufiks adalah imbuhan di sebelah kanan bentuk dasar
Contoh: ajarkan
  1. Infiks adalah imbuhan yang disisipkan dalam kata dasar
Contoh: gerigi
  1. Konfiks adalah imbuhan dan akhiran pada sebuah bentuk dasar
Contoh: perceraian
  1. Fleksi adalah afiksasai yang terdiri atas golongan kata yang sama
Contoh: mengajar – diajar
3.  Derifasi adalah afiksasi yang terdiri atas golongan kata yang tidak sama
Contoh: mengajar – pengajar
  1. Klitika adalah morfem pendek yang tidak dapat diberi aksen atau tekanan melekat pada kata atau frasa lain dan meiliki arti yang tidak mudah untuk dideskripsikan secara leksikal, serta tidak melekat pada kelas kata tertentu.
Contoh: -pun, -lah
sekalipun
Sumber : http://susandi.wordpress.com/seputar-bahasa/morfologi-2/
apalah

Komperatif dan Superlativ


1)        Yang  harus Anda ketahui tentang Komparatif dan Superlatif.

Komparatif membandingkan dua orang atau barang  dan menunjukkan sebuah perbedaan. Perhatikan contoh di bawah ini.
Peter ist groβ (1,70 m), aber Max ist noch gröβer (1,80).
Gestern  war das Wetter  schön(24 Grad) und heute wir d es noch schöner  (27 Grad).

Superlatif membandingkan paling sedikitnya tiga orang atau barang dan menempatkan satu di antaranya pada posisi yang paling tinggi.
Maria  ist klein (1, 60 m). Gabi ist kleiner (1,58 m). Sophie ist am kleinsten (1,55 m).
Ein  VW Golf  ist teuer (20.000 Euro). Ein Audi ist teurer (30.000 Euro) und ein  Porsche ist am teuersten (450.000 Euro).

Bentuk bertingkat sebuah adjektiva bisa terletak sebelum  kata benda (bersifat atributif) dan bisa juga merujuk pada kata kerja dalam kalimat (bersifat adverbial).
Atributif:
Der Fabrikarbeiter will sich ein teures  Auto kaufen.
Der  Vorgesetzter hat sich ein teureres Auto gekauft.
Der Direktor kann sich das teuerste Auto leisten.

Adverbial:
Europäerinnen sind sehr hübsch.
Afrikanerinnen sind noch hübscher.
Südamerikanerinnen sind am hübschesten.

2)        Pembentukan Komparatif dan Superlatif

Komparatif dibentuk dari adjektiva dengan memberi  akhiran  -er , sedangkan superlatif dibentuk dengan pola  am+adjektiva-(e)sten atau  der/die/das + adjektiva-(e)ste.

Positiv
Komparatif
am … sten
der, die, das … ste
faul
Fauler
am faulsten
der, die, das faulste
langsam
Langsamer
am langsamsten
der, die, das langsamste
hübsch
Hübscher
am hübschesten
der, die, das hübscheste
groβ
Gröβer
am gröβten
der, die, das gröβte

Apabila superlatif dibentuk  dengan  der/die/das, artikel  tersebut  menunjukkan Genus yang harus dideklinasikan sesuai  Numerus  dan Kasusnya.  Sisipan   (e  ) berfungsi untuk memudahkan pengucapan adjektiva  yang  berakhiran  –d, -t, -β, -sch*, -tz, -x, dan –z. Perhatikan adjektiva-adjektiva berikut:
blind,blöd, breit, dicht, echt, fest, fett, feucht, fies, fix, glatt, heiβ, krass, laut, leicht, leise, mies, mild, müde, net, rasch, sanft, satt, schlecht, spitz, stolz, süβ, wild, weise, weit, zart.

*tidakberlakuuntukadjektiva yang berbunyi –isch, seperti: komisch, neidisch, frisch, modisch

3)        Adjektiva  dengan satu suku kata
Untuk  adjektiva  yang hanya terdiri dari satu suku kata, pembentukan komparatif dan superlatifnya  harus  menambahkan Umlaut.  Perhatikan  table berikut ini.
Positiv
Komparatif
Superlatif
alt
älter
am ältesten
arm
ärmer
am ärmsten
groβ
groβ
am gröβten
jung
jünger
am jügsten
                                                                                                                      

Perhatikan pula adjektiva-adjektiva berikut ini:
Kalt, klug, kurz, lang, dumm, gesund, grob, hart, krank, rot, scharf, stark, schwach, warm

Beberapa  adjektiva  tertentu (lihat tabel di bawah) pembentukan komparatif dan superlatifnya tidak  beraturan. 
Positiv
Komparatif
Superlatif
dunkel
dunkler
am dunkelsten
edel
edler
am edelsten
gern
lieber
am liebsten
gut
besser
am besten
hoch
höher
am höchsten
nah
näher
am nächsten
teuer
teurer
am teuersten
sauer
saurer
am sauersten
viel/sehr
mehr*
am meisten
wenig
weniger*
am wenigsten
*tidak  dideklinasikan --> tanpa akhiran

4)        Perbandingan
Dengan bentuk adjektiva bertingkat kita bisa menyatakan suatu perbandingan. Perbandingan itu sendiri bisa menginformasikan  bahwa  dua orang atau barang  sama atau tidak  sama.
Sebuah  kesamaan dinyatakan  dengan  so + Adjektiva + wie  atau  gleich … wie, ebenso … wie, genau so … wie, doppelt so …wie. Kedua orang atau barang yang dibandingkan  berkasus  sama. Lihat  contoh  berikut ini.
·       Ludwig  ist genauso  nett  wie  sein Bruder.
·       Die Kollegin ist ebenso  geizig  wie der Kollege.
·       Dein  Vater  liebt  dich  ebenso  sehr  wie  deine  Mutter.
·       Ich bin dreimal so fleiβig wie du.

Adapun  ketidaksamaan  dapat  ditunjukkan  dengan  komparatif + als atau dengan nicht/kein + so + adjektiva + wie.  Kedua orang atau  barang yang dibandingkan  juga  berkasus  sama. Perhatikan  contoh  berikut  ini.
·         Dein 13-jähriger  Sohn  ist schon  viel gröβer als  meine 16-jährige Tochter.
·         Du hast  zwar mehr Geld als ich, aber  dafür  habe ich viel mehr  Freunde als du.
·         Er gewinnt zwar  öfter als ich, aber dennoch bin ich viel intelligenter  als  er.
·         Mein neuer Freund ist nicht so gemein wie mein alter Freund.
·         In Deutschland gibt  es nicht so schöne  Strände  wie in Südamerika.

5.      Pembatasan  Superlatif
Pembatasan superlatif  seringkali  harus dilakukan  karena  sulitnya menyatakan  siapa  atau yang mana di antara  banyak sekali orang atau barang  yang paling …, misalnya ketika kita harus menyatakan tempat  atau  daerah  yang terindah di dunia. Pembatasan  superlatife  dinyatakan  dengan  pola:
eine/einer/eines + Genitivartikel  Plural
Berikut ini adalah contoh-contoh  bentuk dan  penggunaannya  dalam kalimat.
·         Ich war schon Mai an einem der schönsten Orte dieser Welt.
·         Torsten ist einer der fleiβigsten Schüller in dieser Klasse.
·         Unsere  Lehrein ist  eine der hübschesten  Lehrerinnen, die ich jemals gesehen habe.
Sumber : https://sites.google.com/site/strukturwortschatz/01-komparatif-dan-superlatif

Die Adjektivdeklination-konjungsi kata sifat

Kata sifat dapat di konjugasikan (mengalami perubahan akhiran) apabila kata sifat tersebut sebagai pelengkap dari kata benda (Attribut zu einem Nomen) atau kata sifat itu sendiri (Attribut zu eine Adjektiv).
Posisi kata sifat terletak di depan kata benda, dan perubahan akhiran kata sifat tersebut tergantung dari jenis kelamin “der-das-die” (Genus), singular-jamak (Numerus) dan “Nominativ, Akkusativ, Dativ dan Genetiv” (Kasus) kata benda yang mengikuti kata sifat tersebut.
Kata sifat yang berfungsi sebagai atributif dapat dikonjugasikan dalam tiga bentuk :
  1. Apabila diikuti oleh “bestimmten Artikel” (der,das,die), maka kata sifat tersebut akan mendapatkan akhiran “-e” atau “-en”. (bestimmten Artikel + kata sifat + kata benda) Lihat Tabel.
    Singular Maskulin Neutrum Feminim
    Nomintaiv der nette Mann das nette Kind die nette Frau
    Akkusativ den netten Mann das nette Kind die nette Frau
    Dativ dem netten Mann dem netten Kind der netten Frau
    Genetiv des netten Mann(e)s des netten Kind(e)s der netten Frau
    Plural
    Maskulin/Neutrum/Feminim
    Nominativ die netten Männer/Kinder/Frauen
    Akkusativ die netten Männer/Kinder/Frauen
    Dativ den netten Männern/Kindern/Frauen
    Genetiv der netten Männer/Kinder/Frauen
    Perubahan kata sifat tersebut diatas berlaku juga untuk bentuk :
    • singular
      • “dies-, jene-,”(Demonstrativpronomen)
      • “jede-, manch-,”(Indefinitpronomen)
      • “welch-,”(Relativ/Introgativpronomen)
    • plural
      • “solch-,” (adjektiv)
      • “alle, beide, sämtliche” (Indefinitpronomen)
  2. Apabila diikuti oleh “unbestimmten Artikel” (ein, eine) atau bentuk negativ dari unbestimmten Artikel (kein, keine), maka kata sifat tersebut akan mendapatkan akhiran “-e”,“-en”,”er”, atau “es”. (unbestimmten Artikel+kata sifat+kata benda).Lihat Tabel.
    Singular Maskulin Neutrum Feminim
    Nomintaiv (k)ein netter Mann (k)ein nettes Kind (k)eine nette Frau
    Akkusativ (k)einen netten Mann (k)ein nettes Kind (k)eine nette Frau
    Dativ (k)einem netten Mann (k)einem netten Kind (k)einer netten Frau
    Genetiv (k)eines netten Mann(e)s (k)eines netten kind(e)s (k)einer netten Frau
    Plural
    Maskulin/Neutrum/Feminim
    Nominativ keine netten Männer/Kinder/Frauen
    Akkusativ keine netten Männer/Kinder/Frauen
    Dativ keinen netten Männern/Kindern/Frauen
    Genetiv keiner netten Männer/Kinder/Frauen
    Perubahan kata sifat tersebut diatas berlaku juga untuk possesive Artikel :“mein”,”dein”,”sein”,”ihr”,”unser”,”euer”,”ihr”
  3. Apabila diikuti oleh “kata benda tanpa Artikel” , maka kata sifat tersebut akan mendapatkan akhiran “-e”,“-en”,”er”,”em” atau “es”. (tanpa Artikel atau einige,etliche, usw.) + kata sifat + kata benda) Lihat Tabel.
    Singular Maskulin Neutrum Feminim
    Nomintaiv netter Mann nettes Kind nette Frau
    Akkusativ netten Mann nettes Kind nette Frau
    Dativ nettem Mann nettem Kind netter Frau
    Genetiv netten Mann(e)s netten Kind(e)s netter Frau
    Plural
    Maskulin/Neutrum/Feminim
    Nominativ nette Männer/Kinder/Frauen
    Akkusativ nette Männer/Kinder/Frauen
    Dativ netten Männern/Kindern/Frauen
    Genetiv netten Männer/Kinder/Frauen
    • Perubahan kata sifat tersebut diatas berlaku juga untuk :“einige”,”etliche”,”mehrere”,”Zahlen (zwei,drei….”),”viele”, “wenige”.
  4. Apabila dalam kalimat terdapat lebih dari satu kata sifat yang terletak sebelum kata benda, maka akan mengalami perubahan(konjugasi) sama seperti ketiga bentuk perubahan (konjugasi) tersebut diatas. Contoh :
    • Sie ist die kluge, schnelle Frau.
    • Ich habe ein kleines, blaues Auto.
    Sumber : http://syams.wordpress.com/2006/07/28/die-adjektivdeklination-konjugasi-kata-sifat/

Cara Membuat Screensaver Energy Saving Mode Pada Blog

Kali ini saya akan menulis sebuah trik blogspot mengenai Cara Membuat Energy Saving Mode Pada Blogspot. Energy Saving Mode berarti sesuatu mode yang berguna untuk menghemat penggunaan energy (listrik) ketika aktivitas blog sedang tidak aktif atau bisa di bilang mirip seperti screen saver kalau di PC.
Bagaimana Cara Membuat Energy Saving Mode Pada Blogspot ?

  1. Login ke blogger.
  2. Kemudian masuk ke Tempalte > Edit HTML.
  3. Centang Expand Template Widget.
  4. Cari kode </head> tag, gunakan fasilitas searching atau dengan menekan tombol F3.
  5. Copy kode dibawah dan pasang sebelum kode </head>
    <script language='javascript' src='http://www.onlineleaf.com/savetheenvironment.js' type='text/javascript'/>
  6.  Setelah itu simpan template.
  7. Kemudian masuk ke Tata Letak dan Klik Tambah Gadget kemudian pilih HTML/Javascript dan tambahkan script di bawah ini  :
    <script language="javascript" type="text/javascript" src="http://www.onlineleaf.com/savetheenvironment.js?time=120"></script>
  8. Keterangan script yang berwarna hijau yaitu merupakan timeout aktivitas blog, jika dengan waktu yang ditentukan blog tidak terdapat aktivitas maka dengan sendirinya Energy Save Mode akan dijalankan.
 Selesai deh  Cara Membuat Energy Saving Mode Pada Blogspot. Terima Kasih. Semoga Bermanfaat.
Kali ini saya akan menulis sebuah trik blogspot mengenai Cara Membuat Energy Saving Mode Pada Blogspot. Energy Saving Mode berarti sesuatu mode yang berguna untuk menghemat penggunaan energy (listrik) ketika aktivitas blog sedang tidak aktif atau bisa di bilang mirip seperti screen saver kalau di PC.
Bagaimana Cara Membuat Energy Saving Mode Pada Blogspot ?

  1. Login ke blogger.
  2. Kemudian masuk ke Tempalte > Edit HTML.
  3. Centang Expand Template Widget.
  4. Cari kode </head> tag, gunakan fasilitas searching atau dengan menekan tombol F3.
  5. Copy kode dibawah dan pasang sebelum kode </head>
    <script language='javascript' src='http://www.onlineleaf.com/savetheenvironment.js' type='text/javascript'/>
  6.  Setelah itu simpan template.
  7. Kemudian masuk ke Tata Letak dan Klik Tambah Gadget kemudian pilih HTML/Javascript dan tambahkan script di bawah ini  :
    <script language="javascript" type="text/javascript" src="http://www.onlineleaf.com/savetheenvironment.js?time=120"></script>
  8. Keterangan script yang berwarna hijau yaitu merupakan timeout aktivitas blog, jika dengan waktu yang ditentukan blog tidak terdapat aktivitas maka dengan sendirinya Energy Save Mode akan dijalankan.
 Selesai deh  Cara Membuat Energy Saving Mode Pada Blogspot. Terima Kasih. Semoga Bermanfaat.

Sumber: http://roy87.blogspot.com/2012/06/cara-membuat-energy-saving-mode-pada.html

Montag, 23. Dezember 2013

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | JCPenney Coupons